Archive

Archive for the ‘Kesehatan’ Category

Bisnis Bubur Bayi

Mungkin Anda salah satu dari banyak orang tua yang kadang mengeluh tentang keterbatasan waktu dalam menyiapkan makanan untuk bayi Anda. Lalu apa ada tempat yang bisa menyajikan makanan khusus bagi bayi? Wah bisnis yang bagus ini…

Baca selanjutnya…

Persyaratan Obat Tradisional Standar BPOM

Oktober 20, 2010 2 komentar

Blog ini kami pindahkan ke Http://pelakuukm.blogspot.com.

Silahkan kunjungi blog baru kami dan simak berbagai artikel terbaru serta informasi lainnya menyangkut kegiatan usaha kecil menengah di Indonesia

Obat herbal yang diproduksi dan dijual ke masyarakat umum harus memenuhi aturan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), antara lain mengenai persyaratan obat tradisional, aturan kemasan, serta pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).

Beberapa Persyaratan Obat Tradisional

Untuk serbuk (berupa butiran homogen dengan derajat halus yang cocok; bahan bakunya berupa simplisia/bahan kering):

  • Kadar air tidak lebih dari 10%.
  • Angka kapang (semacam jamur yang biasanya tumbuh pada permukaan makanan yang sudah basi atau terlalu lama tidak di olah), dan khamir (ragi) tidak lebih dari 10.
  • Mikroba patogennya negatif/nol.
  • Aflatoksin tidak lebih dari 30 bpj (bagian per juta).
  • Serbuk dengan bahan baku simplisia dilarang ditambahkan bahan pengawet.
  • Wadah tertutup baik, disimpan pada suhu kamar, ditempat kering dan terlindung dari sinar matahari.

Untuk kapsul (obat tradisional yang terbungkus cangkang keras atau lunak):

  • Waktu lunak tidak lebih dari 15 menit.
  • Isi kapsul harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

–          Kadar air isi kapsul tidak lebih dari 10%

–          Angka kapang dan khamir tidak lebih dari 10

–          Aflatoksis tidak lebih dari 30 bpj.

–         Dalam wadah tertutup baik, disimpan pada suhu kamar, ditempat kering dan terlindung dari sinar matahari.

Aturan Kemasan

Kemasan obat tradisional memiliki aturan-aturan yang jelas dari BPOM. Desain kemasan obat yang tidak memenuhi ketentuan-ketentuan ini akan ditolak oleh BPOM, menjadikan produk tersebut tidak memiliki nomor registrasi dan menjadi ilegal bila diedarkan.

Beberapa aturan Desain Kemasan Obat Tradisional BPOM:

1.       Merek.

2.       Ilustrasi.

3.       Khasiat.

4.       Nomor regristrasi.

5.       Logo Obat Tradisional/Jamu dibagian kiri atas. Penggunaan warna logo juga tidak bisa diubah, standar warna yang digunakan adalah warna hijau tua.

6.       Nama produsen.

7.       Komposisi produk.

8.       Peringatan/Perhatian (optional dari BPOM).

9.       Netto/Isi.

10.   Khasiat produk pada kemasan obat tradisional harus sama dengan sertifikat yang diberikan oleh BPOM. Khasiat tidak boleh dilebih-lebihkan.

11.   Cantumkan cara penyimpanan agar kandungan produk tidak mudah kadaluarsa.

12.   Dosis

13.   Nomor produksi dan tanggal kadaluarsa, sehingga mudah mengecek tanggal produksi, ataupun hal lain seperti pengajuan komplain dari konsumen atas ketidakpuasan isi produk.

14.   Logo halal.

Aturan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik

Antara lain:

1. Bangunan

  • Memenuhi persyaratan higienis dan sanitasi
  • Tahan terhadap pengaruh cuaca, serta dapat mencegah masuknya rembesan dan masuk dan bersarangnya serangga, binatang pengerat, burung dan binatang lainnya.
  • Memudahkan dalam pelaksanaan kerja, pembersihan dan pemeliharaan.
  • Memiliki ruangan atau tempat administrasi, ruangan atau tempat penyimpanan simplisia yang baru diterima dari pemasok, tempat sortasi, tempat pencucian, ruang tempat pengeringan, tempat penyimpanan simplisia termasuk bahan baku lainnya yang telah diluluskan, tempat penimbangan, ruang pengolahan, tempat penyimpanan produk setengah jadi, ruang pengemasan, ruang penyimpan bahan pengemas, ruang penyimpanan produk jadi termasuk karantina produk jadi, laboratorium atau tempat penguji mutu, toilet, ruang serba guna.
  • Yang perlu diperhatikan antara lain:

–          Ruangan pengolahan tidak boleh digunakan untuk lalu lintas umum dan tempat penyimpanan bahan yang tidak termasuk dalam proses pengolahan.

–          Ruang pengolahan produk tidak digunakan untuk kegiatan lain.

–          Mempunyai sarana pembuangan dan atau pengolahan limbah yang memadai dan berfungsi dengan baik.

–          Ventilasi udara serta pipa-pipa saluran dipasang sedemikian rupa untuk mencegah timbulnya pencemaran terhadap produk.

–          Bebas dari retakan dan sambungan terbuka serta mudah dibersihkan dan disanitasi.

–          Ruangan atau tempat penyimpanan hendaklah cukup luas, terang dan memungkinkan penyimpanan bahan dan produk jadi dalam keadaan kering, bersih dan teratur, dan lain-lain.

2. Peralatan

Ketentuan untuk peralatan antara lain

  • Peralatan yang digunakan tidak menimbulkan serpihan atau akibat yang merugikan produk.
  • Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji, dan mencatat hendaklah diperiksa ketelitiannya secara teratur serta ditera menurut suatu program dan prosedur yang tepat.
  • Penyaring yang menggunakan asbes tidak boleh digunakan.
  • Bahan-bahan yang diperlukan untuk tujuan khusus, seperti bahan pelumas, bahan penyerap kelembaban, air kondensor dan sejenisnya tidak boleh bersentuhan langsung dengan bahan yang diolah.
  • Peralatan pengolahan obat herbal berbentuk kapsul, antara lain:

–          Alat ekstraksi bahan sampai mendapat ekstrak/serbuk yang memenuhi syarat yang ditetapkan.

–          Alat atau mesin pencampur yang dapat menghasilkan campuran yang homogen.

–          Alat atau mesin granulasi bahan untuk sediaan kapsul, bila diperlukan.

–          Alat atau mesin pengering granul, bila diperlukan.

–          Alat atau mesin pengisi kapsul yang dapat mengisikan campuran bahan ke dalam kapsul dengan bobot seragam.

–          Alat atau mesin pengemas primer.

Karyawan

Beberapa aturan bagi karyawan antara lain:

  • Hendaklah menjalani pemeriksaan kesehatan baik sebelum diterima menjadi karyawan maupun selama menjadi karyawan yang dilakukan secara berkala.
  • Karyawan yang mengidap penyakit atau menderita luka terbuka yang dapat menurunkan kualitas produk dilarang menangani bahan baku, bahan yang sedang dalam proses, bahan pengemas dan produk jadi sampai sembuh kembali.
  • Karyawan hendaklah mencuci tangan dengan sabun atau detergent lain sebelum memasuki ruang pembuatan. Untuk tujuan itu perlu dipasang tanda peringatan.
  • Karyawan hendaklah melaporkan kepada atasan langsung setiap keadaan pabrik, peralatan atau personalia yang menuntut penilaian mereka dapat menurunkan kualitas produk.
  • Karyawan hendaklah menggunakan seragam kerja, penutup rambur, masker, sarung tangan, dan lain sebagainya yang bersih sesuai dengan tugas yang dilaksanakan. Untuk tujuan itu disediakan tempat khusus untuk ganti pakaian.
  • Dilarang merokok, makan dan minum serta perbuatan lain yang dapat mencemari mutu produk didalam ruangan pembuatan dan ruang penyimpanan. Untuk tujuan ini perlu dipasang peringatan.

BISNIS OBAT HERBAL

Oktober 19, 2010 3 komentar

Blog ini kami pindahkan ke Http://pelakuukm.blogspot.com.

Silahkan kunjungi blog baru kami dan simak berbagai artikel terbaru serta informasi lainnya menyangkut kegiatan usaha kecil menengah di Indonesia

Konsep back to nature turut membawa angin segar bagi pertumbuhan bisnis obat herbal di Indonesia, apalagi semakin mahalnya pengobatan medis membuat masyarakat saat ini lebih memilih obat herbal. Berdasarkan data hasil survey, penggunaan obat herbal dari tahun ke tahun meningkat. Pada 1980, sekitar 19,8%, pada tahun 1986 sebanyak 23,3%, pada tahun 2004 sebanyak 32,8%, pada perkiraan tahun 2010 akan lebih meningkat lagi. Pasar obat alami Indonesia pun semakin meningkat. Pada tahun 2003 mencapai Rp.2,5 triliun, pada tahun 2005 mencapai Rp.4 triliun, dan pada tahun 2010 diperkirakan Rp.8 triliun.

Obat herbal saat ini juga sudah dimanfaatkan oleh kalangan medis yang melakukan uji klinis sehingga obat herbal memiliki standar sebagai obat fitofarmaka. Pada dasarnya obat herbal dibagi menjadi tiga, yaitu yang disebut jamu, herbal berstandar, dan fitofarmaka. Herbal fitofarmaka adalah obat-obatan herbal yang sudah melalui uji klinis dan sudah dikemas sedemikian rupa oleh pabrik farmasi dalam bentuk sirup, tablet atau kapsul. Namun jumlah obat herbal fitofarmaka saat ini masih hanya sekitar 5 produk yang beredar, yakni Nodiar sebagai anti diare, Rheumaneer sebagai anti rematik, Stimuno sebagai peningkat daya tahan tubuh, Tensigard Agromed sebagai obat anti hipertensi, serta X-Gra untuk mempertahankan stamina laki-laki.

Sementara yang dimaksud herbal berstandar adalah obat herbal yang baru melalui uji praklinis yang banyak dijumpai di pasaran. Sedangkan obat herbal berupa jamu telah berkembang dalam masyarakat secara tradisi, diturunkan dari satu generasi ke generasi, dan biasanya ditemui di toko-toko jamu. Masih sedikitnya obat herbal yang tergolong fitofarmaka yang sudah melalui uji klinis atau uji pada manusia dan hewan dikarenakan waktu untuk uji yang sangat lama, karena harus melalui riset, lab, uji pada hewan dan uji pada manusia. Selain itu dikarenakan proses pengurusannya memerlukan biaya besar, bisa mencapai miliaran rupiah.

Meski saat ini perkembangan obat herbal masih banyak dijumpai pada jenis obat herbal berstandar, namun masyarakat sudah banyak yang merasakan khasiatnya, bahkan memiliki keunggulan tertentu dibandingkan obat kimiawi. Menurut salah satu sumber kami, bahwa obat medis untuk penghilang rasa sakit hanya bisa menghilangkan gejala rasa sakit yang ditimbulkan dari suatu penyakit tetapi tidak mampu menyembuhkan penyakit tersebut.

Sedangkan pada obat herbal seperti misalnya mengkudu, selain berfungsi sebagai penghilang rasa sakit juga merupakan obat anti kanker, darah tinggi, dan kolesterol tinggi.

Bahkan obat herbal tak hanya bisa menyembuhkan penyakit saja, tapi juga bermanfaat bagi kecantikan, sperti misalnya minyak zaitun jika diminum berkhasiat menurunkan total kadar kolesterol, mencegah timbulnya berbagai macam kanker, mengurangi terjadinya penyumbatan dan penebalan pembuluh darah, meredakan demam, dan sebagai antioksidan yang mengurangi efek buruk sinar UV. Jika dipakai sebagai obat luar juga bisa mencegah kerontokan rambut dan melembabkab kulit. Selain itu hampir tidak ada efek samping dibandingkan obat kimiawi. Agar lebih berkhasiat, konsumsi obat herbal sebaiknya diiringi dengan pengobatan alternatif seperti bekam, akupresur, refleksi dan lainnya.

Pilihan Usaha

Sebagai pemula usaha herbal, dituntut untuk mengetahui seluk beluk mengenai obat herbal, dan saat ini sudah banyak pelatihan yang diadakan termasuk menjadi anggota Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (ASPETRI).

Modal awalnyapun tak harus besar, bahkan cukup dengan modal minimal Rp.1 juta Anda sudah bisa membuat produk obat herbal, tentu saja sebelumnya mengikuti pelatihan obat herbal terlebih dahulu. Seperti yang dijelaskan oleh narasumber kami, modal Rp.1 juta tersebut bisa digunakan untuk membeli alat timbangan digital harga Rp.250 ribu, alat pengisian kapsul Rp.200 ribu, sisanya untuk membeli oven dan pelengkap lain seperti sarung tangan. Bahan yang digunakan tidak perlu dari tanaman herbal yang harus diolah dulu menjadi serbuk herbal, namun bisa langsung membeli serbuk herbal yang siap diramu sesuai komposisi obat herbal tersebut. Serbuk herbal ini bisa didapatkan dari sesama anggota ASPETRI.

Yang perlu diperhatikan adalah membuat supaya obat herbal bisa awet. Ini bisa dilakukan dengan cara sederhana selain menggunakan bantuan penyinaran sinar gamma yang dilakukan di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di Jakarta Selatan. Caranya, campuran beberapa jenis serbuk herbal harus di oven menggunakan oven elektrik sebelum di kemas kedalam kapsul dengan suhu 60 derajat selama 10 menit sehingga awet selama 1 tahun. Selain itu penyimpanan stok produk yang sudah dikemas di botol tidak boleh ditempat lembab dan tidak terkena sinar matahari langsung.

Namun bila Anda tidak mau repot mengurus proses produksi maupun perijinan produk, tak perlu pesimis karena Anda bisa memanfaatkan jasa makloon (proses produksi dikerjakan pihak lain). Cukup dengan biaya makloon sekitar Rp.13 ribu sampai Rp.16,5 ribu/botol berisi 4-60 butir kapsul maka Anda sudah bisa mendapatkan produk obat herbal yang dikemas sesuai dengan merk yang diinginkan.

Yang tak kalah menarik, bisnis inipun bisa dijalankan tanpa resiko dengan modal terjangkau dan hanya menuntuk kemampuan memasarkan produk, yaitu menjadi distributor atau agen. Dengan sejumlahminimal pembelian yang tak sampai jutaan rupiah, distributor sudah bisa meraup keuntungan, apalagi dengan pemberian diskon harga beli produk yang cukup besar, dan produk pun bisa di retur kemudian ditukar dengan yang lebih laku jenisnya.

Jenis Produk dan Pemasaran

Untuk membuat produk obat herbal, kecenderungan saat ini masyarakat lebih banyak berminat pada jenis obat herbal untuk menyembuhkan penyakit yang umum dijumpai. Narasumber kami bertutur bahwa obat herbal untuk penambah tenaga, libido, mengatasi disfungsi ereksi, dan mengatasi nyeri rematik, serta untuk kecantikan seperti herbal untuk pemutih, perawatan rambut, lulur anti penuaan, paling diminati, jadi bukan penyakit yang spesifik, seperti kanker.

Untuk usaha skala kecil di awal usaha, produk bisa dipasarkan ke lingkungan rumah dan klinik pengobatan herbal tanpa perlu terlebih dahulu mengurus izin edar dari BPOM. “Barulah bila perkembangannya bagus maka izin edar produk bisa dijual bebas ke pasaran”. Untuk memperluas pasar sebaiknya pelaku usaha juga membuka sistem keagenan dengan tawaran diskon yang menarik, membuka toko online atau website untuk mempromosikan produk, serta menyediakan fasilitas klinik pengobatan alternatif dengan akupuntur, refleksi, bekam dan lain-lain karena klinik ini akan mendukung penggunaan obat herbal sehingga khasiatnya akan lebih terasa bagi pasien yang datang ke klinik.

Bisnis obat herbal juga mampu meraup keuntungan besar hingga 69%. Sebagai gambaran, misalnya satu jenis obat herbal berupa kapsul memerlukan serbuk herbal seberat 250 gram, bila 1 kapsul beratnya 0,5 mg maka dihasilkan 500 kapsul, sehingga omsetnya Rp.250 ribu. Sementara itu biaya pembelian serbuk herbal seberat 250 gram Rp.100 ribu, sehingga keuntungan kotornya lebih dari dua kali lipatnya (belum dipotong biaya kemas dan operasional).

Dari beberapa pelaku usaha yang sukses menjalankan bisnis obat herbal, ternyata pelaku usaha yang memilih menjadi produsen obat herbal dengan mengkombinasikan layanan klinik pengobatan alternatif paling menguntungkan, dan keuntungannya bisa hingga 70% dari omset. Hal ii dikarenakan biaya operasional dari jasa klinik pengobatan alternatif relatif kecil, karena menggunakan obat buatan sendiri. Selain itu, penjualannyapun bisa langsung ke konsumen akhir, yaitu pasien yang datang ke klinik, sehingga harga jual produk obat herbal lebih tinggi, dan keuntungan yang diperoleh juga lebih besar.

Bila anda ingin menapaki usaha kesehatan yang menjadi kebutuhan utama masyarakat di saat inilah anda mengawalinya.

Kategori:Kesehatan