Beranda > Pertanian dan Peternakan > Budidaya Cabe

Budidaya Cabe

Blog ini kami pindahkan ke Http://pelakuukm.blogspot.com.

Silahkan kunjungi blog baru kami dan simak berbagai artikel terbaru serta informasi lainnya menyangkut kegiatan usaha kecil menengah di Indonesia

Melambungnya harga cabe yang terjadi sejak akhir tahun 2010 memang mengejutkan masyarakat luas. Saking hebohnya pemerintah-pun turut membahas melalui Rakor di istana atas kenaikan harga cabe yang sangat tinggi sepanjang sejarah bangsa Indonesia. Ditingkat konsumen harga cabe sempat mencapai Rp.150 ribu/kg, dan kini masih berkisar pada harga Rp.50-100 ribu/kg.

Kenaikan harga cabe ini disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu. Buntutnya banyak pertanian cabe yang diserang hama dan penyakit. Hal ini juga yang membuat produksi cabe nasional anjlok hingga 40%.

Memang banyak penyebab yang membuat harga cabe melambung karena berkurangnya pasokan atau menurunnya produksi, antara lain serangan hama dan penyakit kuning yang disebabkan oleh virus gemini, meningkatnya serangan cendawan Colletotrichum capsisi penyebab penyakit antraknosa, serta tingginya curah hujan yang menyebabkan cabe menjadi busuk sehinga petani gagal panen.

Parahnya lagi, musibah tersebut terjadi merata di seluruh sentra cabe Kontan, pasokan cabe menipis, sedangkan permintaan cabe tinggi yang mengakibatkan harga cabe menjadi sangat mahal. Misalnya saja harga cabe rawit merah pada pertengahan Januari 2011 masih berkisar Rp.100 ribu/kg, cabe merah keriting Rp.60 ribu/kg, serta cabe merah besar Rp.40-45 ribu/kg.

Cabe Impor

Karena harga tidak kunjung turun, pemerintah mencoba menurunkan harga dengan cara mengimpor cabe dari China, Taiwan, dan Thailand. Masuknya cabe impor sejak pertengahan bulan Januari itu cukup mempengaruhi terhadap penurunan harga cabe. Hal ini terbukti hingga akhir Januari harga cabe keriting di pasar menjadi Rp.40 ribu/kg, cabe merah besar Rp.38 ribu/kg, cabe rawit Rp.50-60 ribu/kg. Namun penurunan ini mungkin hanya berpengaruh di Jabodetabek, dan belum begitu terasa dampaknya di luar daerah.

Masuknya cabe impor ini ternyata dimanfaatkan pedagang untuk mencampur antara cabe impor dengan cabe lokal. Karena harga cabe impor mulai dari Rp.17 ribu/kg. Tapi memang kenyataan dilapangan ternyata kualitas cabe impor lebih rendah dari cabe lokal, baik dari segi rasa yang kurang pedas, warna cabai juga cenderung lebih pucat dibanding cabai lokal. Jika panen raya seperti tahun lalu tercapai, dan masuknya cabe impor tidak mempengaruhi penurunan harga di Jabodetabek mungkin harga cabe akan turun hingga sekitar 30%, meski masih berada diatas harga normal.

Syarat Budidaya

Tanaman cabe sebetulnya termasuk tanaman yang memiliki daya adaptasi luas, sehingga cabe hampir bisa di budidaya di wilayah dataran tinggi maupun dataran rendah. Cabe lebih cocok ditanam di wilayah yang tidak banyak curah hujannya. Alasannya, cabe sangat rentan terhadap hama dan penyakit akibat curah hujan yang tinggi. Cabe sangat cocok ditanam pada wilayah dengan curah hujan tidak terlalu tinggi dengan rata-rata 1000 mm/tahun, kelembaban 70-80%, suhu udara 24-28 derajat. Ideal ditanam di lahan dengan tingkat kemiringan antara 0-10 derajat dengan jarak tanam 50-60 cm, dan lebih bagus di renggangkan saat musim hujan menjdi 60-70 cm.

Sebetulnya cuaca yang tidak menentu tidak menjadi alasan  petani mengalami gagal panen jika petani menerapkan sistem Good Agricutural Practice (GAP), sehingga kondisi akibat cuaca ekstrim seperti curah hujan tinggi atau kemarau panjang bisa diatasi. Namun memang patut diakui bahwa sebagian besar petani masih menerapkan sistem konvensional. Belum banyak petani yang menerapkan sistem GAP. Padahal sistem GAP tidak selalu harus membutuhkan modal yang besar. GAP bisa dimulai dari menggunakan benih cabai unggul, pemilihan lokasi yang bebas banjir, pengelolaan lahan seperti membuat bedengan yang diselimuti plastik mulsa dan diberikan naungan berupa plastik ultraviolet (green house), penyemaian benih, pengendalian hama dan penyakit, hingga memperhatikan saluran air.

Meningkatkan Produktivitas

Salah satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas cabe adalah dengan menggunakan varietas unggul seperti varietas hibrida yang merupakan generasi pertama dari hasil persilangan antara galur murni yang memiliki satu sifat unggul. Program pembentukan varietas hibrida cabai telah dilakukan sejak tahun 2003 oleh Bagian Genetika dan IPB. Beberapa varietas cabai keriting hibrida yang banyak di budidayakan antara lain Inco 99, TM 999, OR 42, dan OR satria. Sedangkan cabe besar hibrida antara lain cabe gada, astina, senopati, hot beauty dan lainnya.

Rencananya dalam waktu dekat IPB sedang mengembangkan jenis cabe yang tahan terhadap berbagai penyakit. Varietas yang sudah dirilis adalah IPB CH3 sedangkan varietas non hibrida adalah Pesona IPB dan Seloka IPB. Tiga varietas tersebut akan disebarluaskan pada petani tahun ini.

Cara lain untuk meningkatkan produktivitas cabe adalah dengan melakukan penanaman dengan menggunakan sistem bedengan yang diselimuti plastik mulsa dibawah naungan plastik ultraviolet layaknya green house tapi lebih sederhana dan tidak begitu mahal. Penggunaan mulsa bisa mengurangi serangan cendawan antraknosa, tanah terlalu banyak air, menekan pertumbuhan gulma gingga menyempurnakan proses fotosintesis.

Sementara itu penggunaan green house yang terbuat dari plastik ultraviolet sangat membantu mengurangi terpaan hujan yang tinggi. Jika di kebun cabe juga dibuat saluran air yang bagus, maka air hujan tidak akan membasahi tanaman cabe yang biasanya menyebabkan tanaman menjadi busuk.

Pemasaran

Meski harga cabe tengah meroket, namun harga cabe ditingkat petani tidak terlalu tinggi. Saat ini ditingkat petani harga cabe keriting adalah Rp.30 ribu/kg, dan Rp.20 ribu/kg untuk cabe merah besar. Padahal harga di pasar sekarang adalah Rp.38-40 ribu/kg, sedangkan di tingkat pedagang eceran harga lebih tinggi lagi. Dari sini terlihat keuntungan terbesar di usaha distribusi cabai masih dinikmati oleh para tengkulak.

Agar petani tidak melulu dirugikan oleh para tengkulak, sebaiknya petani harus berkelompok, jadi hasil paen petani tidak dijual ke petani melainkan melalui kelompok tani, untuk kemudian disalurkan ke pedagang besar di pasar induk.

Selain dipasarkan ke pasar induk dan pasar tradisinal lainnya, cabai juga menjadi komoditas yang diminati supermarket dan pasar modern lainnya. Namun hanya cabe berkualitas prima, dengan ciri cabe mulus tanpa bercak, warna pekat dan cerah serta rasanya pedas. Selain itu tingkat kematangannya juga harus diatas 95% dan keseragaman bentuk 98%.

Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman cabe diantaranya bercak daun (cercospora capsici), rebah semai (Rhizoctonia solani), antraknosa (Gloeosporium piperatum), busuk buah (Phitophthota sp), layu fusarium (Fusarium Oxysporum). Beberapa serangga yang merupakan vektor virus pada cabai anatara lain adalah kutu kebul, kutu daun persik, trips, lalat buah dan aphids.

Untuk mengatasi semua itu bisa dicegah dengan penyemprotan fungsida Previcur saat pembbitan dan pindah tanam. Serangan aphids dan trips dengan insektisida Confidor. Lalat buah bisa dikendalikan dengan insektisida Decis. Antraknosa dengan fungsida Folicur dan Antracol.Busuk batang bisa diatasi dengan penggunaan fungsida Trivia plus Antracol. Untuk virus sebaiknya tanaman langsung dimusnahkan.

  1. Februari 18, 2011 pukul 3:25 pm

    i love it

  2. roy
    Maret 30, 2011 pukul 3:42 pm

    dimana bisa beli insektisida dan fungisida di atas? tolong kirim alamatnya. trimkasih

  3. April 26, 2014 pukul 8:20 pm

    I blog frequently and I genuinely appreciate your
    content. This great article has really peaked my interest.
    I’m going to book mark your blog and keep checking for new information about
    once per week. I opted in for your Feed too.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: